NAPAK TILAS NGUPATAN HUT MAGETAN 342

“NAPAK TILAS NGUPATAN 2017”.

Napak tilas NGUPATAN, dari Ngunut – Parang hingga ke Magetan. Ustadz/ustadzah SD Muhammadiyah 1 Magetan ikut memeriahkan acara tersebut yang diadakan pada tanggal 05 Oktober 2017. Salah satu untuk memperingati HUT Magetan ke 342, Gerak jalan untuk mengenang peristiwa sejarah perpindahan pusat pemerintahan kabupaten dari Magetan ke Kecamatan Parang akibat agresi militer Belanda 1948.

Dari Desa Ngunut, Kecamatan Parang, peserta menempuh perjalanan sejauh 15 km hingga pendopo Kabupaten Magetan. “Kegiatan napak tilas Ngunut-Parang-Magetan ini rutin dilaksanakan setiap tahun. Masyarakat dapat berpartisipasi sebagai wujud nyata mengenang peristiwa bersejarah sembari berolah raga,” kata bapak Sumantri, di sela acara pemberangkatan.

Kegiatan tahunan terkait rangkaian peringatan Hari Jadi ke-342 Kabupaten Magetan yang jatuh 12 Oktober mendatang ini diikuti ribuan peserta berasal dari berbagai unsur. Seperti pemerintahan, TNI, Polri, siswa-siswi sekolah, instansi swasta maupun masyarakat umum dan terbagi menjadi kategori kelompok/perorangan. Kriteria penilaian didasarkan pada ketepatan waktu, kerapian serta ketertiban barisan.

Seperti tertuang dalam catatan perjalanan sejarah Kabupaten Magetan, terjadi agresi militer II yang dilancarkan Belanda untuk menguasai kembali negara Indonesia. Imbas peristiwa tersebut juga terasa di Magetan.

Pada 19 Desember 1948, pasukan Belanda menyerbu dan menguasai Magetan, dan pusat kota berhasil dikuasai Belanda. Untuk menghindari kekosongan kekuasaan dan meneruskan perjuangan, Pemerintah Kabupaten Magetan kemudian mengambil langkah taktis dengan jalan memindahkan pusat pemerintahan ke Desa Ngunut, Kecamatan Parang.

Setelah tentara Belanda meninggalkan Magetan, tanggal 1 Januari 1950 pusat pemerintahan akhirnya dapat dikembalikan lagi ke kota Magetan.

Bagi ustadz/ustadzah yang hingga mau berjuang sampai tujuan itu semua sangat luar biasa pengalamannya, perjuangan yang tiada habisnya dan sangat mengesankan, walau rasa lelah, letih dirasakan..tapi perjuangan buat ke garis finish dengan berjalan kaki sangat diharapkan, karena setiap proses tidak akan mengkhianati hasilnya.. Alhamdulillah beberapa ustadz/ustadzah dapat meraihnya.. Sukses buat ustadz/ustadzah sedamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *